*
Rothschild adalah dinasti Yahudi Bavaria (Jerman) yang memiliki arti sebagai “Tameng Merah”. Dalam bahasa Inggris disebut “Red-Shield”.
Dinasti Rothschild yang melegenda dan sangat berkuasa hingga kini
berawal dari sejarah Eropa di abad ke-18 Masehi dengan kelahiran seorang
bayi Yahudi Jerman yang kemudian diberi nama Mayer Amshell Bauer.
Mayer Amshell Bauer lahir di tahun 1743 di sebuah
perkampungan Yahudi di Frankfurt, Bavaria. Ayahnya bernama Moses
Amschell Bauer yang bekerja sebagai rentenir dan tukang emas yang
berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari kota yang satu
ke kota lainnya. Bakat Moses sebagai rentenir kelak akan diteruskan dan
dikembangkan oleh anak-cucunya. Kelahiran Mayer membuat Moses
menghentikan bisnis ‘nomaden’nya dan menetap di sebuah rumah agak besar dipersimpangan Judenstrasse (Jalan Yahudi) kota Frankfurt. Di rumah itu, Moses membuka usaha simpan-pinjam uangnya. Di pintu masuk kedai renten-nya, Moses menggantungkan sebuah Tameng Merah sebagai merk dagangnya: Rothschild.
Sedari kecil Mayer Amshell dikenal sebagai anak
yang cerdas. Dengan tekun sang ayah mengajari Mayer segala pengetahuan
tentang bisnis rentennya. Moses juga sering menceritakan pengalaman dan
pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai sumber. Moses sebenarnya
ingin menjadikan Mayer sebagai pendeta Yahudi. Namun ajal keburu
menjemputnya sebelum sang anak tumbuh dewasa. Sepeninggal ayahnya, Mayer
sempat meneruskan usaha ayahnya di rumah. Namun tidak lama kemudian
Mayer ingin belajar lebih mendalam tentang bisnis uang. Akhirnya ia
bekerja di sebuah bank milik keluarga Oppenheimer di Hanover.
Di bank ini, Mayer dengan cepat menyerap semua
aspek bisnis perbankan modern. Kariernya pun melesat, bahkan sang
pemilik bank yang terkesan dengan Mayer menjadikannya sebagai mitra muda
dalam kepemilikian bank tersebut.
Setelah merasa cukup banyak menimba ilmu tentang
bisnis perbankan, Mayer kembali ke Frankfurt, meneruskan usaha ayahnya
yang sempat dilepaskannya untuk beberapa waktu. Mayer telah berketetapan
hati, bisnis uang akan dijadikan sebagai bisnis inti keluarga ini. Ia
akan mendidik anak-anaknya kelak dengan segala pengetahuan tentang
bisnis penting tersebut dan menjadikannya keluarga besar penguasa bisnis
perbankan Eropa dan juga dunia.
Salah satu langkah yang diambil Mayer adalah dengan mengganti nama keluarga ‘Bauer’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Petani’ dengan merk dagang usahanya, yakni ‘Tameng Merah’ (Rothschild). Mayer sendiri memakai gelar Baron Rothschild I.
Masuk Kalangan Istana
Berkat kepiawaiannya, usaha rumahan ini berkembang
pesat. Rotshchild I mulai melobi kalangan istana. Orang yang pertama ia
dekati adalah Jenderal von Estorff, bekas salah satu pimpinannya ketika
masih bekerja di Oppenheimer Bank di Hanover. Rothschild I mengetahui
benar, sang jenderal memiliki hobi mengumpulkan koin-koin kuno dan
langka. Dengan jeli Rothschild memanfaatkan celah ini untuk bisa dekat
dengan sang jenderal.
Untuk menambah perbendaharaan koin-koin kuno dan
langka, Rotshchild menghubungi sesama rekannya dalam jaringan orang
Yahudi yang dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan benda-benda
tersebut. Sambil membawa barang yang sangat diminati Jenderal von
Estorff, Rothschild I menemui sang jenderal di rumahnya dan menawarkan
semua koin itu dengan harga sangat murah.
Jelas, kedatangan Rotshchild disambut gembira sang
jenderal. Bukan itu saja, rekan-rekan dan teman bisnis sang jenderal pun
tertarik dengan Rothschild dan kemudian jadilah Rotshchild diterima
sepenuh hati dalam lingkaran pertemanan dengan Jenderal von Estorff.
Suatu hari, tanpa disangka-sangka, Rothschild I
dipertemukan oleh Jenderal von Estorff kepada Pangeran Wilhelm secara
pribadi. Pangeran ternyata memiliki hobi yang sama dengan jenderal.
Wilhelm membeli banyak medali dan koin langka dari Rotshchild dengan
harga yang juga dibuat miring. Inilah kali pertamanya seorang Rotshchild
bertransaksi dengan seorang kepala negara.
Dari perkenalannya dengan Wilhelm, terbukalah akses
Rothschild untuk membuat jaringan dengan para pangeran lainnya. Untuk
membuat pertemanan bisnis menjadi pertemanan pribadi, Rotshchild menulis
banyak surat kepada para pangeran yang berisi puji-pujian dan
penghormatan yang begitu tinggi atas kebangsawanan mereka. Rothschild
juga memohon agar mereka memberi perlindungan kepadanya.
Pada tanggal 21 September 1769, upayanya membuahkan
hasil. Pangeran Wilhelm dengan senang hati memberikan restu atas
kedainya. Rothschild pun memasang lambang principalitas
Hess-Hanau di depan kedainya sebagai lambang restu dan perlindungan Sang
Pangeran. Lambang itu bertuliskan huruf emas dengan kalimat,
“M.A.Rothschild. Dengan limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana
dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm von Hanau.”
Keluarga Talmudian
Tahun 1770, saat berusia 27 tahun, Rothschild
menikahi Guetele Schnaper yang masih berusia tujuhbelas tahun. Dari
perkawinannya, mereka dikarunia sepuluh orang anak. Putera-puteranya
bernama Amshell III, Salomon, Nathan, Karlmann (Karl) dan Jacob (James).
Kepada anak-anaknya, selain mendidik mereka dengan keras soal
pengetahuan bisnis perbankan dan aneka pengalamannya, Rothschild I juga
menanamkan kepada mereka keyakinan-keyakinan Talmudian (bukan Taurat)
dengan intensif.
Frederich Morton, penulis biografi Dinasti Rothschild menulis, “Setiap
Sabtu malam, usai kebaktian di sinagoga, Amshell mengundang seorang
rabi ke rumahnya. Sambil duduk membungkuk di kursi hijau, mencicipi
anggur, mereka berbincang-bincang sampai larut malam. Bahkan pada hari
kerja pun Amshell sering terlihat mendaras Talmud …dan seluruh keluarga
harus duduk dan mendengarkan dengan tertib.”
Keluarga Rotschild merupakan keluarga Yahudi yang
berpandangan Talmudian. Mereka sangat percaya bahwa tuhan, sesuai
keyakinan dalam ayat-ayat Talmud, telah memilih bangsa Yahudi sebagai
manusia super, satu-satunya ras manusia, sedangkan orang lain yang bukan
Yahudi merupakan ras yang derajatnya sama dan setara dengan hewan.
Mereka sama sekali tidak perduli dengan orang lain, dan hanya perduli
dengan kepentingan sesama Yahudi Talmudian. (bersambung/ ridyasmara)
Dalam bisnis ini, Rothschild bertindak sebagai
dealernya. Karena kerja Rothschild begitu memuaskan, maka Wilhelm pernah
memberinya hibah uang sebanyak 600.000 pound atau senilai tiga juta
dollar AS dalam bentuk deposito. Dari usahanya ini, Wilhelm memiliki
banyak uang. Ketika meninggal, Wilhelm meninggalkan warisan terbesar
dalam rekor warisan raja Eropa yakni setara dengan 200 juta dollar AS!
(Maulani; 2002)
Sumber lainnya mengatakan bahwa uang sebesar tiga
juta dollar AS itu sebenarnya berasal dari pembayaran sewa tentara
kerajaan Inggris kepada Wilhelm, namun digelapkan oleh Rothschild (Jewish Encyclopedia, Vol. 10, h.494).
Dengan bermodalkan uang haram inilah Rothschild
membangun kerajaan bisnis perbankannya yang pertama dan menjadi bankir
internasional yang pertama. Sebenarnya, Rothschild I ini tidak membangun
kerajaannya sendiri. Beberapa tahun sebelumnya ia telah mengirim anak
bungsunya, Nathan Rothschild yang dianggap paling berbakat ke Inggris
untuk memimpin bisnis keluarga di wilayah tersebut. Di London Nathan
mendirikan sebuah bank dagang dan modalnya diberikan oleh Rothschild I
sebesar tiga juta dollar AS yang berasal dari uang haram itu.
Di London, Nathan Rothschild menginventasikan uang itu dalam bentuk emas-emas batangan dari East India Company.
Berasal dari uang haram, diputar dengan cara yang penuh dengan tipu
daya, memakai sistem ribawi yang juga haram, kian berkembanglah bisnis
keuangan keluarga Rothschild ke seluruh Eropa. Berdirilah cabang-cabang
perusahaan Rothschild di Berlin, Paris, Napoli, dan Vienna. Rothschild I
menempatkan setiap anaknya menjadi pemimpin usaha di cabang-cabangnya
itu. Karl di Napoli, Jacob di Paris, Salomon di Vienna, dan Amshell III
di Berlin. Kantor pusatnya tetap di London.
Rothschild I meninggal dunia pada 19 September
1812. Beberapa hari sebelum mangkat, ia menulis sebuah surat wasiat yang
antara lain berbunyi:
- Hanya keturunan laki-laki yang diperbolehkan berbisnis. Semua posisi kunci harus dipegang oleh keluarga.
- Anggota keluarga hanya boleh mengawini saudara sepupu sekali (satu kakek) atau paling jauh sepupu dua kali (satu paman). Dengan demikian harta kekayaan keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain. Awalnya aturan ini dipegang ketat, tapi ketika banyak pengusaha Yahudi lainnya bermunculan sebagai pengusaha dunia, aturan ini dikendurkan, walau demikian hanya boleh mengawini anggota-anggota terpilih.
Dinasti Rothschild tidak punya sahabat atau sekutu
sejati. Baginya, sahabat adalah mereka yang menguntungkan kantongnya.
Jika tidak lagi menguntungkan maka ia sudah menjadi bagian masa lalu dan
dimasukkan ke dalam tong sampah. Pangeran Wilhelm sendiri akhirnya
dilupakan oleh Rothschild setelah ia berhasil menilep
uangnya. Ketika Inggris dan Perancis berperang dengan memblokade pantai
lawan masing-masing, hanya armada Rothschild yang bebas keluar masuk
pelabuhan karena Rothschild telah membiayai kedua pihak yang berperang
tersebut.
Bank Sentral Inggris dan Utang Sebagai Alat Penjajahan
Beberapa orang menyangka jika pendirian Bank of
England, bank sentral pertama di dunia, juga akibat campur tangan dari
Dinasti Rothschild. Anggapan ini sebenarnya tidak tepat karena
Rothschild I sendiri baru lahir di Bavaria pada tahun 1743, sedangkan
Bank of England berdiri pada 27 Juli 1694.
Sebelum Dinasti Tameng Merah lahir, jaringan
Luciferian yang terdiri dari tokoh-tokoh Yahudi berpengaruh dunia yang
dikenal dengan istilah “Para Konspirator”, para pewaris Templar, Orde
Militeris yang kaya raya, telah mencanangkan untuk menguasai England
yang menjadi Inggris sekarang dengan strategi lidah ular: Pertama,
merekayasa pernikahan keluarga raja Inggris sehingga nantinya para Raja
Inggris berdarah Yahudi, dan yang kedua lewat provokasi perang melawan
Perancis agar Inggris memerlukan uang yang banyak di mana pihak
Konspirasi akan memberi utang kepada Raja Inggris. Dengan utang,
diharapkan kerajaan besar itu akan takluk.
Inilah fakta sejarah jika jaringan Yahudi Dunia
sejak dulu telah menggunakan utang sebagai alat penakluk suatu negeri.
Sekarang, Indonesia yang kaya raya, juga telah ditaklukkan dan dijajah
oleh utang. Para tokoh Neo-Liberal di negeri ini yang gemar mengundang
utang imperialis masuk ke negeri ini merupakan pelayan-pelayan
kepentingan Luciferian. Banyak orang yang mengaku Islam menjadi
pendukung kelompok Luciferian ini disebabkan mereka malas berpikir
sehingga mudah ditipu mentah-mentah.
Perjalanan para Konspirator dalam menaklukan
Keraaan Inggris diawali dari suatu pertemuan sejumlah petinggi Ordo
Kabbalah di Belanda. Mereka menggelar pertemuan dan sepakat untuk
menguasai Tahta Kerajan Inggris sepenuhnya dengan cara menurunkan
Dinasti Stuart dan menggantikannya dengan seseorang yang mereka bina
dari Dinasti Hanover dari Istana Nassau, Bavaria.
Kala itu, Tahta Kerajaan Inggris tengah diduduki
King Charles II (1660-1685). Raja Inggris ini masih kerabat dekat Duke
of York. Mary adalah anak sulung dari Duke of York. Diam-diam, kelompok
Konspirator mengatur strategi agar Mary yang masih gadis itu bertemu
dengan ‘Sang Pangeran’ bernama William II, salah seorang pangeran
kerajaan Belanda dan pemimpin pasukan kerajaan. Mary dan William II pun
bertemu dan saling tertarik. Pada tahun 1674 mereka menikah. Tahun 1685
King Charles II meninggal dan digantikan oleh James II yang memerintah
sampai tahun 1688.
Dari hasil perkawinan antara William II dan Mary,
lahir seorang putera yang kemudian dikenal sebagai William III, yang
kemudian menikah dengan seorang puteri dari King James II bernama Mary
II. William III yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan
Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja
Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan laki-laki
Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang
lebih berhak menyandang gelar Queen.
Di sinilah para petinggi Yahudi melancarkan
konspirasi dengan mengobarkan ‘Glorious Revolution’ dan akhirnya berkat
Partai Whig yang melakukan kerjasama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi
dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah ini
berhasil menaikkan William III sebagai Raja Inggris. Beberapa tahun
sebelumnya, lewat tangan Oliver Cromwell, kekuatan Yahudi juga telah
‘menyikat’ King Charles I dan menguasai lembaga-lembaga keuangan di
kerajaan itu. Dengan berkuasanya William III maka Inilah awal hegemoni
Dinasti Hanover bertahta di Kerajaan Inggris sampai sekarang. Apalagi
Dinasti Windsor yang berkuasa di Kerajaan Inggris sekarang merupakan
keturunan langsung dari King Edward III (Prince of Wales) yang merupakan
keturunan Hanover (bersambung/ridyasmara).
Pada tahun 1689, Raja Inggris, King William III mendirikan Loyal Orange Order yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis bagi gerakan Protestan. Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap Gereja Katolik: “Kami akan melawanmu!”
Sejarah memang telah mencatat jika Gereja Katholik
merupakan musuh bebuyutan para Templar. Para Templar, dan juga para
pewarisnya seperti kaum Mason dan Rosikrusian, masih sangat ingat
bagaimana Paus Clement IV berkomplot dengan King Philip V dari Perancis
pada Jumat, 13 Oktober 1307 menumpas dan membantai Templar dari seluruh
Eropa. Perlawanan dan penghancuran Gereja (Katolik Roma) merupakan salah
satu tujuan utama kelompok Luciferian ini yang berasal dari dendam
sejarah yang kesumat.
Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan
di Irlandia Utara dengan jumlah anggota tak kurang dari angka 100
ribuan. Kelompok inilah yang senantiasa mengobarkan api permusuhan
terhadap kaum Katolik sehingga sampai sekarang kehidupan masyarakat di
sana tidak pernah sepi dari konflik Protestan-Katolik.
King William III sendiri menceburkan diri dalam
peperangan melawan Perancis yang mayoritas Katolik. Inggris menderita
kerugian yang banyak. Utang pun menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of
England sebagai bank sentral swasta pertama di dunia, seperti yang
telah disinggung di muka.
William G. Carr dalam bukunya “Yahudi Menggenggam
Dunia” (Pustaka Alkautsar, 1991) mencatat kronologi perjalanan
petualangan Oliver Cromwell sebagai kaki tangan tokoh Yahudi-Inggris
setelah kematian King Charles I pada 30 Januari 1649. Inilah
kronologinya singkatnya:
- 1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi internasional sehingga terjadi peperangan antara Inggris Protestan melawan Irlandia Katolik.
- 1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia dibuang ke Perancis.
- 1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.
- 1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.
- 1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.
- 1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi negara merdeka.
- 1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.
- 1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia mengundurkan diri dari kekuasaan.
- 1660, Jenderal monk dari angkatan bersenjata Inggris menduduki London. Charles II diangkat menjadi raja Inggris.
- 1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar paksa.
- 1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.
- 1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.
- 1665, Krisis ekonomi melanda Inggris. Pengangguran dan kelaparan merebak. Di tahun itu juga terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sebagian kota London, disusul wabah penyakit lepra.
- 1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.
- 1667, Ordo Kabbalah yang secara rahasia masih eksis di Inggris melancarkan gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya sebagai gerakan Kabal. Akibatnya muncul gelombang baru penindasan agama dan politik di Inggris.
- 1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa dikendalikan. Pada tulisan di muka hal ini telah disinggung, yakni penobatan King William III yang masih berdarah Dinasti Hanover.
- 1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.
- 1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama Katolik naik tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarkan desas-desus untuk menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular di mata rakyat.
- 1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari Belanda untuk menyerbu Inggris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.
- 1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya. Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.
Sampai sekarang, rakyat Inggris masih mengenang
peristiwa tersebut tanpa banyak yang menyadari bahwa perang saudara itu
sesungguhnya sengaja dibuat oleh Konspirasi Yahudi Internasional, untuk
menguasai perekonomian negara besar Eropa itu. Hasilnya, berdirilah Bank
of England, bank sentral swasta pertama di dunia (1694), yang dimiliki
Konspirasi Yahudi tersebut.
Inggris terus dibuat untuk berperang, sehingga kas
kerajaan terkuras dan hutang bertambah banyak. Jerat yang dipasang para
pemilik modal Yahudi kini telah mengikat mangsanya. Kian lama kian kuat,
mencekik. Inggris pun jatuh ke dalam kekuasaan mereka hanya dengan
modal awal £1.250.000!
Dari Inggris Mendirikan AS
Setelah menaklukkan kerajaan Inggris, pihak
Konspirasi Yahudi Internasional kini mengarahkan wajahnya ke sebuah
benua baru yang masih menjadi koloni Inggris di seberang Samudera
Atlantik: Amerika. Jauh-jauh hari sebenarnya mereka telah mempersiapkan
hal ini lewat salah seorang agennya bernama Christopher Colombus. Orang
ini merupakan anggota Knights of Christ, pelaian Templar yang mukim di
Italia, Portugis, dan Spanyol. Semasa remajanya, Colombus malah menjadi
orang kepercayaan Rene de Anjou, Grand Master Persaudaraan di Italia.
Demikianlah, Amerika Serikat memang dipersiapkan
jauh-jauh hari sebagai The Second Promise Land, selain Yerusalem, bagi
bangsa Yahudi. Nama lain kota New York saja adalah The New Jerusalem.
Pada 4 Juli 1776, tokoh-tokoh Mason Amerika menandatangani Declaration
of Independence. Berdirilah satu negara Masonik yang dipersiapkan
sebagai The Headquarter, markas besar, gerakan Ordo Kabbalah dalam
menaklukkan dunia kelak, menuju tatanan dunia baru yang sepenuhnya
sekular. Suatu cita-cita Masonik yang ditorehkan pada lambang negara AS:
Novus Ordo Seclorum. (bersambung/ridyasmara)
Tidak seperti sekarang, Eropa waktu itu merupakan sebuah benua yang terbagi dalam banyak kerajaan besar kecil, serta sejumlah wilayah kecil otonom (Principalis), semacam kabupaten yang merdeka, seperti Monaco dan Lechtenstein. Saat itu Inggris dan Perancis merupakan dua negara kerajaan yang paling berpengaruh. Setelah Inggris berhasil dikuasai dan para tokoh Mason Amerika berhasil memproklamirkan kemerdekaan negara itu, maka Konspirasi Yahudi Internasional berusaha untuk menaklukkan Perancis. Baron Rothschild merupakan salah satu tokoh sentral dalam Konspirasi Yahudi Internasional untuk menaklukkan Perancis.
Tahun 1773, Baron Rothschild dan 12 tokoh Yahudi
lainnya berkumpul di kediamannya di Bavaria. Mereka membahas berbagai
perkembangan Eropa terakhir, termasuk mengevaluasi hasil-hasil upaya
Konspirasi di Inggris. Dalam pertemuan inilah, nama Adam Weishaupt
disebut oleh Rothschild sebagai seseorang yang bisa dipercaya untuk
menjalankan tugas dari Konspirasi.
Dalam pertemuan itu, Baron Mayer juga membacakan 25
butir strategi penguasaan dunia yang kelak dalam Kongres Zionis
Internasional I di Basel-Swiss tahun 1897 disahkan dengan nama
Protocolat Zionis.
Baron Mayer atau Rothschild I juga mengatakan jika
Konspirasi dianggap terlalu lamban dalam melakukan program yang
direncanakan untuk Inggris, akibatnya penguasaan Inggris secara total
terhambat oleh hal-hal kecil. Namun hal-hal kecil ini bisa dianggap
tidak berpengaruh besar bagi upaya penguasaan oleh Konspirasi. Walau
demikian, hal-hal kecil ini dianggap tidak boleh dibiarkan. Beberapa
kelompok berpengaruh di Inggris ada yang masih mampu bertahan menghadapi
Konspirasi.
Rothschild segera memerintahkan agar pelaksanaan
program dipercepat dan menyingkirkan oposisi secepatnya dengan segala
cara yang bisa diambil. Jika perlu, segenap lapisan masyarakat Inggris
harus dikuasai dengan jalan teror atau kekerasan.
Dalam pertemuan itu, Rothschild juga menekankan
kepada para undangan bahwa apa-apa yang telah dihasilkan di Inggris
sesungguhnya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan
mereka perbuat atas Perancis. Skema besar untuk meletupkan Revolusi
Perancis pun di bahas dengan serius.
Ini merupakan satu mata rantai dari sejumlah
pertemuan para Konspiran untuk menggodok Revolusi Perancis. Dalam
pertemuan di Frankfurt ini, agenda yang telah dirancang dipermatang dan
upaya penggalangan dana pun di mulai dari ‘markas’ Rothschild tersebut.
Menurut penilaian sosiologis dan psikologi massa yang dilakukan
Konspirasi, situasi yang tengah dihadapi Perancis saat itu memang
menggambarkan dengan baik apa yang sebenarnya tengah terjadi di Eropa:
perekonomian tengah lesu, utang menumpuk, pengangguran di mana-mana,
lapangan pekerjaan nyaris tidak bergerak, sektor industri macet, dan
bencana kelaparan di ambang pintu.
Jurang kesenjangan ekonomi yang terjadi antara
buruh dan rakyat kebanyakan dengan para bangsawan, pemilik modal, dan
raja-raja demikian besar dan dalam. Menurut teori revolusi, dalam
kondisi demikian buruk, massa rakyat telah siap untuk menyambut siapa
pun yang tampil secara meyakinkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih
baik. Massa rakyat telah menjadi semacam tumpukan jerami kering yang
hanya dengan percikan api sedikit saja akan bisa terbakar dan meluas
dengan sangat cepat. Kondisi di Perancis merupakan yang terparah.
Di tengah kondisi demikian, lewat corong media yang
dikuasainya, Konspirasi meniupkan aneka slogan yang muluk-muluk dan
melemparkan semua kesalahan kepada penguasa dan orang-orang kaya,
sehingga rakyat Perancis kian membenci mereka. Kehancuran dan kerusuhan
tinggal menunggu hitungan hari. Sebuah rencana besar siap digelindingkan
oleh Konspirasi.
Salah satu rumus baku dalam gerakan massa adalah:
menjelek-jelekkan masa sekarang, di saat bersamaan mengingatkan massa
rakyat akan kegemilangan masa lampau dan meyakinkan massa rakyat bahwa
masa depan akan bisa menjadi lebih gemilang, mengulangi masa-masa
keemasan di zaman silam, jika massa rakyat mau dan siap bergerak
menumbangkan status-quo. Ini berlaku di mana saja.
Untuk menyatukan langkah gerakan massa, Konspirasi
menciptakan tiga slogan gerakan: Liberté, Egalité, dan Fraternité
(Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan). Sebuah slogan yang mampu
membius massa rakyat Perancis sehingga rela mengorbankan apa saja demi
memenuhinya. Slogan ini secara terus-menerus diperdengarkan ke telinga
rakyat Perancis sehingga setiap orang Perancis saat itu sangat hapal
dengan tiga istilah di atas saat itu, bahkan kemudian dunia juga hafal.
Walau terdengar sangat indah, namun tiga istilah di
atas bagi Konspirasi Yahudi Internasional memiliki arti yang sama
sekali beda. Bagi kelompok ini, Liberté sesungguhnya berarti Kemerdekaan
bagi mereka, kebebasan bagi mereka, bagi para pemilik modal, untuk
berbuat apa saja terhadap Perancis.
Egalité yang sesungguhnya bermakna Persamaan, bagi
Konspirasi diartikan sebagai persamaan di kalangan mereka untuk bisa
bersama-sama, gotong royong, di dalam usahanya menguasai perekonomian
Perancis.
Sedangkan Fraternité memiliki arti sebagai
Persaudaraan antara kelompok mereka sendiri, di mana di dalam setiap
usahanya, mereka harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, agar
kepentingan kelompok mereka bisa dicapai. Inilah hakikat tiga slogan
Revolusi Perancis. Jadi Persaudaraan hanya terbatas pada kelompoknya
saja.
Pada 14 Juli 1789, massa rakyat berbondong-bondong
menuju penjara Bastille, perancis. Penjara yang bagaikan benteng itu
dibakar. Para narapidana melarikan diri dan menimbulkan kerusuhan dan
perampokan di mana-mana. Penyerbuan ke penjara benteng Bastille ini
menandai di mulainya Revolusi Perancis. Hari demi hari berjalan dengan
perkmebangan yang tidak bisa diduga. King Louis XVI dan Marie Antoinette
ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Tidak lama kemudian keduanya
dihukum mati, di pancung di atas Guilotin.
Mirabeau yang awalnya didukung Konspirasi, kini
malah diburu. Dia sebenarnya seorang yang cerdas, dan menjadi curiga dan
dengan cepat ia menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya. Namun
Mirabeau terlambat, mesin propaganda Konspirasi telah bekerja begitu
cepat dan efektif melancarkan fitnah terhadapnya. Gagal menyeret
Mirabeau ke pengadilan, akhirnya pihak Konspirasi meracuni Mirabeau
hingga tokoh ini menemui ajal. Jenazah Mirabeau diatur sedemikian rupa
untuk mengesankan dia bunuh diri. Sejumlah selebaran dan berita-berita
yang mendukung ‘bunuh diri’ Mirabeau ini dicetak dan disebarluaskan ke
Eropa.
Kematian Mirabeau kemudian diikuti dengan
berkuasanya pemerintahan teror di Perancis. Pada masa ini, tiap hari
rakyat Perancis menyaksikan ribuan orang tiap hari digiring menuju pisau
Guilotin. Roberspierre dan Danton ditugaskan Konspirasi untuk menjadi
algojonya. Setelah dianggap menyelesaikan tugasnya, kedua orang ini,
Roberspierre dan Danton pun dibunuh dengan keji. Pemerintahan teror
mencapai puncaknya antara tanggal 27 April hingga 27 Juli 1794.
Satu hari sebelum Roberspierre diseret ke tempat
hukuman mati, di depan Majelis Nasional, Roberspierre sempat
menyampaikan orasi yang menyerang Konspirasi dan membuka tirai mereka
dengan mengatakan ada sebuah organisasi rahasia yang bekerja dan menjadi
dalang Revolusi Perancis. Roberspierre dengan tegas mengatakan, “Aku
tidak berani menyebut nama mereka di tempat ini dan disaat ini pula.
Aku juga tidak bisa membuka tirai yang menutupi kelompok ini sejak awal
terjadinya peristiwa revolusi. Akan tetapi, aku bisa meyakinkan anda
sekalian, dan aku percaya sepenuhnya, bahwa di antara penggerak revolusi
ini ada kaki tangan yang diperalat dan melakukan kegiatan amoral dan
penyuapan besar-besaran. Kedua sarana itu merupakan taktik yang paling
efektif untuk menghancurkan negeri kita yang kita cintai ini…”
Roberspierre, seorang Mason yang diberi kesempatan
lebih untuk mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya, ternyata
dinilai 13 petinggi Konspirasi Yahudi Internasional telah bertindak
melampaui batas. Mereka menetapkan jika Roberspierre harus mati. Maka
dalam waktu dekat, Roberspierre pun diseret ke tempat hukuman mati
dengan tuduhan yang dibuat-buat.
Sejarah mencatat bahwa di tengah kondisi Perancis
yang porak-poranda dan berkecamuknya kerusuhan serta situasi yang tidak
menentu, muncullah Napoleon Bonaparte yang penuh kharismatik lewat
sebuah kudeta. Sebagai seorang pemimpin militer, Napoleon meyakini
kerusuhan di dalam negeri harus diakhiri. Caranya adalah dengan
menciptakan satu musuh dari luar yang mampu menjadi musuh bersama bagi
rakyat Perancis (The Common Enemy). Ide besar Napoleon ini didukung oleh
Konspirasi. (bersambung/ridyasmara)
Salah satu peristiwa yang sangat penting dalam
perjalanan Eropa, terutama bagi Inggris dan Perancis adalah Palagan
Waterloo, yang yang terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di sebuah wilayah
yang kini berada di Belgia, antar pasukan Napoleon Bonaparte melawan
pasukan Eropa yang dipimpin Panglima Perang Kerajaan Inggris,
Wellington.
Hasil dari pertempuran besar ini akan sangat
berpengaruh pada Eropa di masa depan. Jika Napoleon keluar sebagai
pemenang, maka Perancis akan menjadi tuan atas seluruh daratan Eropa.
Namun jika Napoleon bisa dikalahkan maka Inggris akan menjadi penguasa
keuangan Eropa yang tak kan tergoyahkan.
Ketika dua kekuatan saling berhadapan di medan
perang, pasar bursa saham di London benar-benar seperti orang yang
sedang demam, panas dingin dengan keringat yang terus keluar, menantikan
hasil akhirnya. Betapa tidak, jika Grande Armee de France
Napoleon Bonaparte menang maka bisa dipastikan perekonomian Inggris
akan hancur. Namun jika Wellington menang, perekonomian negara itu akan
melonjak drastis, meroket ke puncak kejayaan dengan menguasai Perancis.
Hal ini diketahui Nathan Rothschild dan segera
mengumpulkan agen-agen terbaiknya dan mengirim mereka ke Waterloo untuk
mengumpulkan informasi seakurat mungkin. Agen-agen tambahan ditempatkan
di beberapa pos komando yang mampu bergerak cepat kapan saja untuk
memberi bantuan, dukungan, maupun segi-segi teknis lainnya.
Tanggal 15 Juni 1815, tiga hari sebelum D-Day,
seorang agen kepercayaan Rothschild dengan langkah tergesa menaiki
sebuah perahu cepat melalui Selat Channel menuju Pantai Dover di
Inggris. Orang itu membawa laporan intelijen dari agen-agen Rothschild
di lapangan terkait perkembangan terakhir di lapangan. Agen khusus itu
tiba di Folkstone dini hari dan dijemput oleh Rothschild pribadi. Dengan
cepat dan seksama Rothschild membaca seluruh isi laporan tersebut dan
langsung bergegas ke pasar bursa London. Di pasar bursa itu Rothschild
sudah menaruh banyak agennya yang telah siap diperintah kapan pun.
Dengan wajah dingin dan kaku seperti biasanya,
Nathan Rothschild memasuki gerbang pasar bursa. Seperti biasa, ia
berdiri di dekat ‘Pilar Rothschild’ kesukaannya. Agen-agen Rothschild
yang sudah berada di pasar bursa sejak beberapa hari lalu, dengan wajah
yang juga dingin menunggu isyarat dari bosnya. Entah isyarat apa yang
diberikan Rothschild, tiba-tiba saja orang-orang Rothschild ini mulai
menumpahkan surat-surat berharga senilai ratusan ribu dollar ke pasar.
Begitu kertas-kertas berharga ini dilempar ke pasar dalam jumlah besar,
nilainya dengan cepat merosot tajam.
Nathan tetap diam di pilarnya. Ia terus menjual,
dan menjual. Nilai kertas-kertas berharga ambruk tidak tertolong.
Pialang-pialang lain mulai gelisah melihat sikap Rothschild yang begitu
berani melepas semua saham-sahamnya tanpa ampun bagai membuang
kertas-kertas yang tidak ada harganya sama sekali. Mereka mulai
berspekulasi, bisik-bisik mulai menyebar di antara mereka. Pasar bursa
London berdengung bagai suara lebah, “Rothschild sudah tahu! Rothschild
sudah tahu! Wellington kalah di Waterloo! Napoleon menang!”
Kepanikan meletus di lantai bursa. Semua pialang
mengikuti ulah Rothschild, menumpahkan kertas-kertas berharganya ke
pasar tanpa peduli menjadi berapa pun harganya. Tak hanya uang, logam
mulia seperti emas dan perak pun dilepas dengan harga obral besar. Hanya
satu harapan mereka: berupaya sekuat tenaga mempertahankan kekayaan
yang masih tersisa di tangannya. Semuanya terus menukik tajam.
Kertas-kertas berharga berserakan di lantai bursa bagaikan gunungan
sampah.
Setelah semua harga saham jatuh, dengan wajah tetap
dingin, Nathan memberi isyarat lain kepada para agennya. Bandul mulai
bergerak berlawanan. Dengan sangat cepat, para agen Rothschild yang
tadinya melepas sahamnya, sekarang melesat ke tiap meja yang ada dan
memborong seluruh kertas berharga yang teronggok di atas meja dan
bertebaran di lantai. Kepanikan telah menyebabkan banyak pialang dan
pengusaha tidak lagi bisa berpikir jernih. Mereka tidak lagi melihat
perubahan sikap dari Rothschild. Dalam hitungan menit, semua saham,
kertas berharga, emas, perak, dan sebagainya kini telah jatuh ke tangan
satu orang: Rothschild. Dia menjadi penguasa tunggal dengan modal yang
tidak seberapa.
Beberapa hari kemudian berita yang sesungguhnya
tentang Palagan Waterloo tiba di London. Wellington menang! Wellington
menang! Harga saham, kertas berharga, dan sebagainya yang tadinya begitu
murah, dengan cepat melesat meninggi. Kekayaan Rothschild dalam waktu
hanya semalam menjadi berlipat-lipat jumlahnya. Tak kurang dari duapuluh
kali lipat! Rakyat kebanyakan meloncat-loncat kegirangan di jalanan.
Sedang para pengusaha banyak yang merasakan mati sebelum waktunya.
Mereka kini telah menjadi budak dari Tuan Rothschild, sang penguasa
Inggris dan Eropa yang sesungguhnya. Perekonomian Inggris jatuh ke bawah
sepatu Nathan Rothschild pada tahun 1815.
Tiga tahun kemudian Perancis
menyusul Inggris dan jatuh ke bawah sepatu yang sama.
Frederich Morton, penulis Biografi Dinasti
Rothschild menulis, jika dahulu mereka sangat terbuka dalam berbisnis
dan menjadi pusat pemberitaan selebritis dunia, maka kini hal itu tidak
lagi menjadi kebiasaan keluarga kaya raya tersebut. “Setelah itu mereka
menyelimuti kehadirannya dengan kesenyapan, tak terdengar dan tak
terlihat…” Menurut Morton, hal ini dilakukan sebagai strategi baru
keluarga ini untuk tetap eksis dalam tujuan utamanya memonopoli dunia,
menciptakan The New World Order.
Rothschild dan Pendirian Federal Reserve
Ketika Amerika masih terbagi dalam 13 koloni
Inggris, Benjamin Franklin mengunjungi London dan menemui sejumlah
pemodal Yahudi berpengaruh di sana. Dalam pertemuan yang dicatat dalam
Dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33, yang ditulis Robert L. Owen,
mantan kepala komisi bank dan keuangan Kongres AS, dilaporkan bahwa
wakil-wakil perusahaan Rothschild di London menanyakan kepada Benjamin
Franklin hal-hal apa saja yang bisa membuat perekonomian koloni Inggris
di seberang lautan itu bisa maju.
Franklin yang masih tercatat sebagai anggota
Freemasonry Inggris menjawab, “Masalah itu tidak sulit. Kita akan
mencetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh industri yang kita miliki.”
Insting bisnis Rothschild segera bekerja. Ini
merupakan satu kesempatan besar untuk menangguk untung di koloni Inggris
ini. Namun sebagai langkah awal, hak untuk mencetak uang sendiri bagi
koloni di seberang lautan tersebut masih dilarang oleh Inggris sampai
waktu yang ditentukan. Namun persiapan ke arah itu sudah dijalankan.
Inggris saat itu memang sudah jatuh dalam pelukan Konspirasi.
Amshell Mayer Rothschild sendiri saat itu masih
sibuk di Jerman mengurus bisnisnya, yang salah satu cabang usahanya
adalah mengorganisir tentara bayaran (The Mercenaries)
Jerman bagi Inggris untuk menjaga koloni-koloni Inggris yang sangat
luas. Usulan mencetak mata uang sendiri bagi Amerika, lepas dari sistem
mata uang Inggris, akhirnya tiba di hadapan Rothschild.
Setelah
memperhitungkan segala laba yang akan bisa diperoleh, demikian pula
dengan penguasaan politisnya, maka Rothschild akhirnya menganggukkan
kepalanya. Dengan cepat lahirlah sebuah undang-undang yang memberi hak
kepada pemerintah Inggris di koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya
sendiri bagi kepentingan koloninya tersebut. Seluruh asset koloni
Amerika pun dikeluarkan dari Bank Sentral Inggris, sebagai pengembalian
deposito sekaligus dengan bunganya yang dibayar dengan mata uang yang
baru. Hal ini menimbulkan harapan baru di koloni Amerika. Tapi benarkah
demikian?
Dalam jangka waktu setahun ternyata Bank Sentral
Inggris—lewat pengaruh pemodal Yahudi—menolak menerima pembayaran lebih
dari 50% dari nilai mata uang Amerika, padahal ini dijamin oleh
undang-undang yang baru. Dengan sendirinya, nilai tukar mata uang
Amerika pun anjlok hingga setengahnya. “…Masa-masa makmur telah
berakhir, dan berubah menjadi krisis ekonomi yang parah. Jalan-jalan di
seluruh koloni tersebut kini tidak lagi aman,” demikian paparan Benjamin
Franklin yang tercatat dalam Dokumen Kongres AS nomor 23.
Belum cukup dengan itu, pemerintah pusat Inggris
memberlakukan pajak tambahan kepada koloninya tersebut yakni yang
dikenal sebagai Pajak Teh. Keadaan di koloni Amerika bertambah buruk.
Kelaparan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan rakyat
berbaur dengan ambisi sejumlah politikus. Situasi makin genting. Dan
tangan-tangan yang tak terlihat semakin memanaskan situasi ini untuk
mengobarkan apa yang telah terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis:
Revolusi.
Dalam sejarah dunia, revolusi merupakan hal yang
dibutuhkan tokoh-tokoh dalam bayangan gelap untuk menguasai suatu negara
atau suatu wilayah dengan cepat. Tak perduli berapa juta rakyat menjadi
korbannya.(bersambung/ridyasmara)
Sejarah mencatat, bentrokkan bersenjata antara pasukan Inggris melawan pejuang kemerdekaan Amerika Serikat terjadi pada 19 April 1775. Jenderal George Washington diangkat menjadi pimpinan kaum revolusioner. Selama revolusi berlangsung, Konspirasi Yahudi Internasional seperti biasa bermain di kedua belah pihak. Yang satu mendukung Inggris, memberikan utang dan senjata untuk memadamkan ‘pemberontakan kaum revolusioner’, sedang yang lain mendukung kaum revolusioner dengan uang dan juga senjata. Tangan-tangan Konspirasi menyebabkan Inggris kalah dan pada 4 Juli 1776, sejumlah tokoh Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya.
Merdeka secara politis ternyata tidak menjamin
kemerdekaan penuh secara ekonomis. Kaum pemodal Yahudi dari Inggris
masih saja merecoki pemerintahan yang baru saja terbentuk. Rothschild
dan seluruh jaringannya tanpa lelah terus menyusupkan agen-agennya ke
dalam tubuh Kongres. Dua orang agen mereka, Alexander Hamilton dan
Robert Morris pada tahun 1783 berhasil mendirikan Bank Amerika (bukan
bank sentral), sebagai ‘wakil’ dari Bank Sentral Inggris.
Melihat gelagat yang kurang baik, Kongres
membatalkan wewenang Bank Amerika untuk mencetak uang. Pertarungan
secara diam-diam ini berlangsung amat panas. Antara kelompok pemodal
Yahudi dengan sejumlah tokoh Amerika, yang herannya banyak pula yang
merupakan anggota Freemasonry, untuk menguasai perekonomian negara yang
baru ini.
Thomas Jefferson menulis surat kepada John Quincy
Adams, “Saya yakin sepenuhnya bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih
berbahaya bagi kemerdekaan kita daripada serbuan pasukan musuh. Lembaga
keuangan itu juga telah melahirkan sekelompok aristokrat kaya yang
kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut hemat saya, kita wajib
meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan ini dan
mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang
paling berhak.”
Mengetahui surat ini, para pemodal Yahudi amat
marah. Nathan Rothschild secara pribadi mengancam Presiden Andrew
Jackson akan menciptakan kondisi Amerika yang lebih parah dan krisis
berkepanjangan. Tapi Presiden Jackson tidak gentar. “Anda sekalian
tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan menghancurkan
kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian semua!”
Pemodal Yahudi benar-benar marah sehingga mendesak Inggris agar menyerbu Amerika dan terjadilah perang lagi pada tahun 1816.
William Guy Carr telah merinci kejadian demi
kejadian ini dengan sangat bagus. Presiden Abraham Lincoln sendiri pada
malam tanggal 14 April 1865 dibunuh oleh seorang Yahudi bernama John
Dickles Booth. Konspirasi memerintahkan pembunuhan ini karena mengetahui
bahwa Presiden Lincoln akan segera mengeluarkan sebuah undang-undang
yang akan menyingkirkan hegemoni Konspirasi terhadap Amerika. Si
pembunuh Lincoln, Dickles Booth, berhubungan dengan Yahuda B. Benjamin,
seorang agen Rothschild di Amerika. Booth sendiri tertangkap dan
dihukum, sedangkan pihak Konspirasi tetap aman.
Bagi yang tertarik mendalami masa-masa awal
berdirinya negara Amerika Serikat, pertarungan antara pihak
Kongres-Nasionalis dengan para pemodal Yahudi Internasional dalam
menguasai perekonomian AS hingga The Federal Reserve atau Bank Sentral
Amerika berdiri, yang lucunya dimiliki oleh swasta bukan pemerintah,
bisa membaca buku William Guy Carr yang telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Alkautsar berjudul “Yahudi
Menggenggam Dunia”, sebuah buku lagi yang juga saya rekomendasikan
adalah The Creature From Jekyll Island: A Second Look at the Federal
Reserve (American Opinion Publishing, Inc; 1994) karya Edward Griffin,
yang edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Esok Press dengan judul
“Serial The Fed 1: Monster dari Jekyll Island, Sebuah Studi Mendalam
Tentang The Federal Reserve” yang didistribusikan oleh LSM PaRaM. Dalam
kedua buku tersebut, kita akan bisa memahami bahwa sesungguhnya bangsa
Amerika sekarang ini telah menjadi kuda tunggangan, sedang dijajah, oleh
satu kekuatan bayangan yang disebut Konspirasi Yahudi Internasional.
Bahkan kita akan mendapat kesimpulan yang kuat dan mengagetkan: Negara
Amerika Serikat serta seluruh warganegara dan asset-asetnya sebenarnya
milik dari The Federal Reserve.
Dalam salah satu kertas presentasinya, seorang
profesor Amerika dengan nama samaran “Aristoteles”, menguraikan
sebab-sebab kebangkrutan pemerintah Amerika Serikat berjudul “U.S Government Bankruptcy Proceedings”. Walau hanya berisi pokok-pokok peristiwa, namun makalah tersebut sangat penting untuk diketahui. Inilah salinannya:
- Sebelum tahun 1913, pemerintah Amerika memperoleh dana dari tarif impor. Pada saat itu belum ada pajak dikenakan pada warganegara. Mata uang Amerika dibuat dari logam asli atau yang bisa dihargai/dikembalikan sebagai logam—dikenal sebagai “uang asli”.
- Pada tahun 1913 para bankers memutuskan bahwa telah terjadi kekurangan mata uang di Amerika dan pemerintah Amerika tidak bisa menerbitkan mata uang lagi karena semua emas cadangannya telah terpakai.
- Agar ada sirkulasi tambahan uang, kelompok orang mendirikan satu bank yang dinamakan “The Federal Reserve Bank of New York”.
- Kemudian Federal Reserve Bank di New York menjual stock yang dimiliki dan dibeli oleh mereka sendiri senilai US$ 450.000.000 melalui bank-bank sebagai berikut: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam (Keluarga Warburg mengontrol German Reichsbank bersama Keluarga Rothschild), Israel Moses Seif Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Kuhn & Loeb Bank of New York.
- Karena bank-bank tersebut mempunyai cadangan emas yang besar, maka bank tersebut dapat mengeluarkan mata uang yang dengan jaminan emas tersebut dan mata uang tersebut disebut “Federal Reserve Notes”. Bentuknya sama dengan mata uang Amerika dan masing-masing dapat saling tukar.
- Untuk membayar bunga, pemerintah Amerika menciptakan pajak. Jadi sebenarnya warganegara Amerika membayar bunga kepada Federal Reserve. Pajak ini dimulai tahun 1913, pada tahun yang sama Federal Reserve Bank didirikan. Seluruh pajak yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.
- Awal tahun 1929, Federal Reserve berhenti menerima uang emas sebagai bayaran. Yang berlaku hanya ‘uang resmi’. Federal Reserve mulai menarik uang kertas yang dijamin emas dari sirkulasi dan menggantinya dengan ‘uang resmi’.
- Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi Amerika mengalami malapetaka (dikenal dengan masa ‘Great Depression’).
- Tahun 1931, Presiden Amerika Hoover mengumumkan kekuarangan budjet sebesar US$ 902.000.000.
- Tahun 1932 Amerika menjual emas senilai US$ 750.000.000 yang digunakan untuk menjamin mata uang Amerika. Ini sama dengan ‘penjualan likuidasi’ sebuah perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan potongan (discount rates) oleh bank internsional/bank asing (persis keadaannya seperti di Indonesia sekarang ini), dan pembelinya adalah pemilik Federal Reserve di New York.
- Presiden Roosevelt mengalahkan Presiden Hoover di tahun 1932. Dalam sambutannya ia mengatakan, “Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri.” Roosevelt melakukan serangkaian keputusan untuk melakukan reorganisasi pemerintahan Amerika sebagai suatu perusahaan. Perusahaan ini kemudian mengalami kebangkrutan. Amerika bangkrut karena tidak bisa membayar bunganya akibat berhutang kepada Federal Reserve. Akibat bangkrutnya Amerika, maka bank-bank yang merupakan pemilik Federal Reserve sekarang memiliki SELURUH Amerika, termasuk warganegaranya dan asset-assetnya. Negara Amerika bentuknya adalah anak perusahaan Federal Reserve. (bersambung/ridyasmara)
Federal Reserve telah membangkrutkan seluruh asset Amerika Serikat. Seminggu kemudian, di Parlemen, dilakukan tuntutan impeachment terhadap anggota-anggota dari Dewan Federal Reserve, kebanyakan agen-agen Federal Reserve dan para manajer dari Departemen Keuangan Amerika dengan tuduhan “kejahatan luar biasa dan penyalahgunaan wewenang”, termasuk pencurian lebih dari US$ 80.000.000.000 pertahun selama lima tahun (total US$ 400.000.000.000!)
Tahun 1934 Roosevelt memerintahkan seluruh bank di
Amerika untuk tutup selama satu minggu dan menarik dari masyarakat emas
dan mata uang yang diback-up emas dan menggantinya
dengan “seolah-olah uang” yang dicetak Federal Reserve. Tahun itu
dikenang sebagai ‘Liburan Bank Nasional’.
Rakyat mulai menahan emasnya karena mereka tidak
mau menggunakan kertas tak bernilai “seolah-olah uang”. Karena itu
Roosevelt pada tahun 1934 mengeluarkan perintah bahwa setiap warganegara
dilarang memiliki emas, karena illegal. Para hamba hukum mulai
melakukan penyelisikan pada orang-orang yang memiliki emas, dan segera
menyitanya jika ditemukan. (Catatan: Pada saat itu rakyat yang ketakutan
berbondong-bondong menukar emasnya dengan sertifikat/bond bertuliskan
I.O.U yang ditandatangani oleh Morgenthau, Menteri Keuangan Amerika).
Hal ini merupakan perampokan emas besar-besaran yang terjadi dalam
sejarah umat manusia. Tahun 1976 Presiden Carter mencabut aturan ini.
Tahun 1963 Presiden Kennedy memerintahkan
Departemen Keuangan Amerika untuk mencetak uang logam perak. Langkah ini
mengakhiri kekuasaan Federal Reserve karena dengan memiliki uang
sendiri, maka rakyat Amerika tidak perlu membayar bunga atas uangnya
sendiri. Lima bulan setelah perintah itu dikeluarkan, Presiden Kennedy
mati dibunuh.
Langkah pertama Presiden Johnson adalah membatalkan
keputusan Presiden Kennedy dan memerintahkan Departemen Keuangan
Amerika untuk menghentikan pencetakan mata uang perak sekaligus menarik
mata uang perak dari peredaran untuk dimusnahkan.
Pada hari yang sama Kennedy dimakamkan, Federal
Reserve Bank mengeluarkan uang ‘no promise’ yang pertama. Uang ini tidak
menjanjikan bahwa mereka akan membayar dalam mata uang yang sah secara
hukum, tetapi mata uang ini merupakan alat pembayaran yang berlaku.
Presiden Ronald Reagan merencanakan memperbaiki
pemerintahan Amerika sesuai dengan aturan konstitusi. Ia ditembak
beberapa bulan kemudian oleh anak dari teman dekatnya, Wakil Presiden
George Bush. Reagan bia diselamatkan, dan dia tidak mengeluarkan
perintah baru dan pada tahun 1987 untuk melaksanakannya namun perintah
tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Amerika.
Tahun 1993, James Traficant dalam pidatonya yang
terkenal di Parlemen mengutuk sistem Federal Reserve sebagai suatu
penipuan besar-besaran. Tak lama setelah itu ia menjadi korban
penyelidikan korupsi sekali pun tidak ada tuntutan kepadanya selama
bertahun-tahun.
Uang dollar yang dicetak sebelum tahun 2000 tertera
kata-kata Federal Reserve Bank cabang mana yang mengeluarkan dan
menjamin uang tersebut. Pada cetakan tahun 2000 dalam desain mata uang
yang baru hanya tertera Federal Reserve System.
Pada tahun 2002, Traficant akhirnya terbukti
korupsi. Ia mengatakan bahwa saksi-saksi yang melawan dia semuanya
dipaksa untuk berbohong. Ia juga mengeluh karena tidak diperkenankan
menghubungi semua orang yang menyelidikinya, sebagai saksi.
Henry Ford pernah berkata, “Barangkali ada bagusnya
rakyat Amerika pada umumnya tidak mengetahui asal-usul uang, karena
jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi.”
Dinasti Rothschild dan Al-Aqsha
Dinasti Rothschild, selain menguasai The Federal
Reserve dan sejumlah bank paling berpengaruh dunia, ternyata juga
berjasa besar dalam membangun The Temple Mount dan kota Yerusalem serta
bangsa Yahudi pada umumnya. Dengan demikian Rothschild juga harus
bertanggungjawab atas kerusakan Masjidil Aqsha sekarang ini.
Rothschild merupakan sponsor utama pembangunan
Haikal Sulaiman ketiga yang direncanakan akan berdiri di atas reruntuhan
Masjid al-Aqsha. Haikal Sulaiman atau Bait Suci, dalam sejarahnya
pernah dua kali dibangun. Yang pertama dibangun oleh Hiram Abiff (Raja
Titus, pengikut Lucifer), yang kedua dibangun oleh Raja Herodes
(Romawi). Dan untuk yang ketiga, dinasti Rothschild membangun bait ini
kembali atas mandat Illuminaty.
Selain Bait Suci, Gedung Mahkamah Agung Israel (The
Supreme Court Building) yang arsitektur bangunannya sarat dengan simbol
Luciferian, juga dibangun Rothschild. Posisi bangunan-bangunan yang
berada di dalam kompleks Knesset ini tersusun dalam garis-garis sejajar
berbentuk dua persilangan simbol salib terbalik (inverted cross),
sebagaimana tanda salib yang terdapat di dalam gereja setan. Gedung
Parlemen dan Gedung Mahkamah Agung berada di garis pendek. Garis panjang
yang memotong garis pendek (membentuk salib) akan berakhir di
Rockefeller Museum di utara Gunung Moriah. Tarikan garis-garis ini
membentuk "anak kunci". Segala sesuatu mengenai gedung Mahkamah Agung
ini berkaitan dengan detail-detail perhitungan matematika yang
berunsurkan angka-angka magic yang secara umum disebut "diabolical" (the cult calculation).
Para insinyur yang dipilih untuk pekerjaan
pembangunan gedung Supreme Court ini ditentukan oleh Dorothy Rothschild.
Yang terpilih kemudian adalah cucu laki-laki dan cucu perempuan
Ben-Zion Guine dari Turkey, orang kepercayaan Baron Rothschild : Ram
Kurmi, lahir di Yerusalem (1931) dan Ada Karmi Melanede, lahir di Tel
Aviv (1936). Mereka adalah orang-orang yang sangat ahli dalam ilmu
matematika diabolical dan Ley Lines. Adalah sangat penting bagi para
perancang bangunan ini untuk memiliki keahlian seperti itu supaya mereka
mampu menyelesaikan bangunannya dalam perhitungan angka-angka
religious/spiritual yang tepat di suatu wilayah geografi.
Untuk keseluruhan gedung ada 1000 lembar proyek
perencanaan, 1200 tumpukan semen, waktu bekerja adalah 3 tahun (750
hari), dan hanya 20 pekerja ditetapkan untuk bekerja setiap hari selama
200.000 hari kerja, 250.000 batu bangunan yang harus diletakkan dengan
tangan dalam posisi-posisi ritual yang penuh arti. Secara utuh bentuk
gedung ini menggambarkan T-cross (salib Tau = symbol okultisme bagi
dewa-dewa Mesir).
Dalam kompleks ini terdapat “Rothschild emblem”
yang merupakan simbol peringatan dan penghargaan kepada dinasti
Rothschild generasi pertama, Rothschild dan lima anak laki-lakinya,
sebagai pelopor berdirinya bank-bank central di hampir semua Negara
Eropa.
Keluarga Rothschild membuat beberapa kesepakatan
dengan pemerintah Israel sebelum mereka membangun gedung-gedung di
kompleks Knesset, khususnya The Supreme Court. Kesepakatan tersebut
antara lain memberikan ijin kepada Rothschild untuk membangun The
Supreme Court dengan arsitek sendiri, dan biaya pembangunan seluruhnya
ditanggung oleh Rothschilds (tidak seorangpun tahu berapa nilainya).
Satu gedung ini saja menghabiskan waktu pembangunan selama tiga tahun
ditambah satu tahun untuk mengerjakan begitu banyak "rahasia" di
dalamnya.
Memasuki gedung ini, setelah melewati pemeriksaan
sekuriti, hal yang pertama bisa dilihat adalah foto besar di dinding
sebelah kiri. Di bagian kiri foto itu terlihat Teddy Kollek, kemudian
Lord Rothschild, disebelah kanan berdiri Shimon Peres, di bawah kiri
adalah Yitzhak Rabin. Yang lainnya adalah keluarga Rothschild yang
terlibat dalam pembangunan The Supreme Court.
Dinasti Rothschild merupakan salah satu dinasti
terkuat Luciferian di dunia sejak dulu hingga kini. Kelimpahan materi
yang sangat banyak, juga kehidupannya, semata-mata dipersembahkan bagi
agama Luciferiannya. Dalam hal ini Rothschild jauh lebih saleh ketimbang
orang-orang yang mengaku beragama monotheisme namun malah
memperdagangan agama itu sendiri demi mengambil keuntungan materi bagi
diri pribadi dan keluarganya. Wallahu’alam bishawab. (Tamat/ridyasmara)









0 komentar:
Posting Komentar