Senin, 12 Mei 2014

    “SUNNAH-SUNNAH RASULLULLAH Saw..”


    Assalamualykum wr.wb

    Alhamdulillah ya akhi wa ukhti… kali ini LDK KMM kembali lagi untuk berbagi tausyiah harian..

    Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan. Sunnah juga berarti sesuatu yang pelakunya mendapat pahala dan tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya.

    Di antara perbuatan sunnah yang jarang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai berikut:

    1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri. Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakaikeduanya sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
               
    2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu
    Diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,“Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
    3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak)
    Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,“Siwak dapat membersihkan mulut dan sarana untuk mendapatkan ridha Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i)
                Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Andaikata tidak memberatkan umatku niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
                Bersiwak disunnahkan setiap saat, tetapi lebih sunnah lagi saat hendak berwudhu, shalat, membaca Al-Qur`an, saat bau mulut berubah, baik saat berpuasa ataupun tidak, pagi maupun sore, saat bangun tidur, dan hendak memasuki rumah.
              Bersiwak merupakan perbuatan sunnah yang hampir tidak pernah dilakukan oleh banyak orang, kecuali yang mendapatkan rahmat dari Allah. Untuk itu, wahai saudaraku, belilah kayu siwak untuk dirimu dan keluargamu sehingga kalian bisa menghidupkan sunnah ini kembali dan niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang sangat besar.
                    4. Shalat Istikharah
    Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammengajarkan kepada kita tata cara shalat istikharah untuk segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat-surat Al-Qur`an kepada kami.” (HR. Al-Bukhari)
    Oleh karena itu, lakukanlah shalat ini dan berdoalah dengan doa yang sudah lazim diketahui dalam shalat istikharah.
    5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak TanganKetika Berwudhu
    Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung secara bersamaan dari satu ciduk air dan itu dilakukan sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
                   
    6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan
    Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti hendak shalat, kemudian tidurlah dengan posisi miring ke kanan dan bacalah, ‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku lindungkan punggungku kepada-Mu, karena cinta sekaligus takut kepada-Mu, tiada tempat berlindung mencari keselamatan dari (murka)-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan nabi yang Engkau utus’. Jika engkau meninggal, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Dan usahakanlah doa ini sebagai akhir perkataanmu.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan
    Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberbuka puasa sebelum shalat maghrib dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada maka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

                    8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana
    Sujud ini hanya sekali dan tidak terikat oleh waktu. Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau disampaikan kabar gembira maka beliau langsung sujud dalam rangka bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya`
    Hal ini berlaku jika tidak ada keperluan saat begadang. Tetapi jika ada keperluan, seperti belajar, mengobati orang sakit dan lain-lain maka itu diperbolehkan. Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak suka tidur sebelum shalat isya` dan tidak suka begadang setelah shalat isya` 
    10. Mengikuti Bacaan Muadzin
    Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakan wasilah untukku, karena wasilah merupakan tempat di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap agar akulah yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan wasilah untukku maka ia akan mendapatkan syafaatku (di akhirat kelak).” (HR. Muslim)

                    11. Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Andaikata umat manusia mengetahui pahala di balik adzan dan berdiri pada shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu niscaya mereka membuat undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Andaikata mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh secara berjamaah, niscaya mereka datang meskipun dengan merangkak.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu
    Jika tidak mendapatkan izin dari tuan rumah, maka konsekuensinya anda harus pergi. Namun, banyak sekali orang yang marah-marah jika mereka bertamu tanpa ada perjanjian sebelumnya, lalu pemilik rumah tidak mengizinkannya masuk. Mereka tidak bisa memaklumi, mungkin pemilik rumah memiliki uzur sehingga tidak bisa memberi izin. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur: 28)
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Adab meminta izin itu hanya tiga kali, jika tidak diizinkan maka seseorang harus pulang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    12. Mengibaskan Seprai Saat Hendak Tidur
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kalian hendak tidur, maka hendaknya dia mengambil ujung seprainya, lalu mengibaskannya dengan membaca basmallah, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di atas kasurnya. Jika dia hendak merebahkan tubuhnya, maka hendaknya dia mengambil posisi tidur miring ke kanan dan membaca, “Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabbku, dengan-Mu aku merebahkan tubuhku, dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan nyawaku, maka ampunkanlah ia, dan jika Engkau melepasnya, maka lindungilah ia dengan perlindungan-Mu kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim)

    13. Meruqyah Diri Dan Keluarga
    Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa ia berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa meruqyah dirinya dengan doa-doa perlindungan ketika sakit, yaitu pada sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Saat beliau kritis, akulah yang meruqyah beliau dengan doa tersebut, lalu aku mengusapkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri, karena tangan itu penuh berkah.” (HR. Al-Bukhari)

    14. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru
    Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika mengenakan pakaian baru, maka beliau menamai pakaian itu dengan namanya, baik itu baju, surban, selendang ataupun jubah, kemudian beliau membaca, “Ya Allah, hanya milik-Mu semua pujian itu, Engkau telah memberiku pakaian, maka aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tujuannya dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuannya dibuat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

    15. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil
    Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan, ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apa ciri keislaman seseorang yang paling baik?’Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Kamu memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
     Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberjalan melewati kumpulan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka semua.”(HR. Muslim)
                    16. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)
    Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin mandi besar, maka beliau membasuh tangannya terlebih dahulu, lalu berwudhu seperti hendak shalat, kemudian memasukkan jemarinya ke air dan membasuh rambutnya dengan air. Selanjutnya RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam menuangkan air tiga ciduk ke kepalanya dengan menggunakan tangannya, lalu mengguyur semua bagian tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    17. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika imam membaca “Amin” maka kalian juga harus membaca “Amin” karena barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan malaikat maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
     Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum salafus-shalih mengeraskan bacaan “Amin” sehingga masjid bergemuruh.
     18. Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Shalat
    Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma mengatakan, mengeraskan suara dalam berzikir setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat wajib telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku mengetahui orang-orang telah selesai melaksanakan shalat karena mendengar zikir mereka.” (HR. Al-Bukhari)
     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat.” Sunnah ini tidak dilakukan di banyak masjid sehingga tidak dapat dibedakan apakah imam sudah salam atau belum, karena suasananya sepi dan hening. Caranya adalah imam dan makmum mengeraskan bacaan tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) secara sendiri-sendiri, bukan satu komando dan satu suara. Adapun mengeraskan suara ketika berzikir dengan satu komando, satu suara dan dipimpin oleh imam maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan sunnah secara mutlak, ada yang memandang sunnah dengan syarat-syarat tertentu dan ada pula yang mengatakan bahwa zikir berjamaah adalah perbuatan bid’ah.
                    19. Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah
    Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Ketika kalian hendak shalat, maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya, maka hendaknya dia menghalanginya karena orang itu adalah setan.” (HR. Abu dawud dan Ibnu Majah)
    Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Rasulullah menancapkan tombak di depannya, lalu shalat di belakang tongkat itu.” (HR. Al-Bukhari)
    Sunnah ini sering diabaikan, terutama saat melakukan shalat sunnah.Wahai saudaraku! Jadilah seperti orang yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Tiada satu hadits pun yang sampai kepadaku kecuali aku mengamalkannya meskipun hanya sekali.”Muslim bin Yasar mengatakan, “Aku pernah melakukan shalat dengan memakai sandal padahal shalat tanpa sandal sangat mudah dilakukan. Aku melakukan itu hanya ingin menjalankan sunnah RasulShallallahu Alaihi wa Sallam.”Ibnu Rajab menuturkan, “Orang yang beramal sesuai ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,meskipun amal itu sangat kecil, maka itu akan lebih baik daripada orang yang beramal tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meskipun dia sangat bersungguh-sungguh.”


    Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti sunnah rasul-Mu dan mengikuti jejaknya. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang tua kami bersamanya di surga wahai Tuhan Yang Maha Pengasih
                                                                                        Sykron, Jazakumullah khair
    Wassalamualykum wr.wb

    Indahnya Ibadah di sepertiga malam "Bertahajudlah berdua dengan Allah"


    Assalamualykum wr.wb
     Ikhwanfillah n ukhtifillah yang dirahmati Allah SWT.. pada kesempatan ini ada sharing tentang bagaimana keindahan dan kemuliaan ibadah di 1/3 malam.. mau tauu ???

    Menurut Imam al-Ghazali, menjalankan ibadah di tengah malam termasuk upaya menggapai cinta Allah SWT, yang paling sempurna, kerena merupakan bukti yang paling benar tentang adab dalam beribadah. Allah SWT memuji orang yan gemar beribadah pada alam hari dengan firman-Nya “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepasda mereka (QS: Al-Sajdah [32]; 16). 
                Tidak diragukan bawa orang yang beribadah pada malam har adalah orang yang mencintai Tuhan. Bahkan mereka adalahpara pecinta yang paling mulia {Subhanallah J} Sebaba ibadah di tengah malam yang mereka lakukan merangkum sebagian besar faktor penyebab cinta. Jika membaca Al-Quran, mereka tidak hanya membacanya, tetapi juga merenungkan maknanya dengan khusyuk.
                Dengan bangun malam mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah. Dengan jauhnya lambung dari tempat tidur untuk Dzikir kepada Allah, mereka lebih utama dari orang-orang yang mengingat Allah pada siang hari. Hal itu juga menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan cinta Allah daripada hasrat mereka sendiri. Dengan bangun malam mereka telah menelaah nama dan sifat-Nya dengan hati, serta berjalan di taman-taman dan sifat-sifat-Nya.
                Orang yang gemar beribadah pada malam hari sejatinya telah merekuk tiga perempat faktor yang mendatangkan cinta. Karena itu tidak heran apabbila malaikat Jibril sangat dipercaya penduduk langit, berkata kepada Nabi Muhammad Saw “Ketahuilah bahwa seorang mukmin itu mulia karena ia bangun malam, dan terhormat karena tidak butuh manusia “.
                Bangun malam membuat seseorang menjadi mulia karena mereka lebih mengutamakan ridha Allah pada waktu yang paling sulit. Karena itulah mereka disemati tanda-tanda kemuiaan Illahi dalam bentuk cahaya hati, di wajah, ketikamasih hidup, dan setelah mati .Ini merupakan balasan atas ibadah pada malam har nan gelap gulita untukberibadah kepada-Nya. Seorang wanita yang sedang haid dapat pulan menjalankan ibadah pada malam hari dengan cara berdzikir, istighfar. Sungguh pintu surge begitu luas sehingga dapat menampung semua pejalan.
                                                                            Syukron, Jazakumullah khair
    Wassalamualykum wr.wb

    Senin, 28 April 2014

    Tiada Kemuliaan Kecuali dengan Islam





    Ia

    Islam adalah ajaran yang mulia dan memuliakan manusia yang memeluknya. Dan tegaknya Din Islam di Bumi ini merupakan rahmat bagi semesta Alam. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:
    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    ”Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

     Berkaitan dengan ayat di atas, asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi menafsirkan:
    أي وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلاّ رحمة للعالمين

    “Yakni tidaklah Allâh mengutus dirimu wahai sebaik-baiknya makhluk ciptaan (Nabi Muhammad shallallaahu ’alayhi wa sallam) dengan membawa berbagai peraturan (syari’ah islamiyyah) melainkan merupakan rahmat bagi seluruh alam.”[1]

    Allah berfirman:



    وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون
     
     “Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)


    Menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan:
    يقول تعالى ذكره للمؤمنين به، المصدقين بكتابه، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة:(إذا قرئ)، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له)، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه (وأنصتوا) إليه لتعقلوه وتتدبروه … (لعلكم ترحمون)، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آياته.

     “Allah SWT berfirman untuk memperingatkan orang-orang beriman, yakni orang-orang yang membenarkan kitab-Nya, yakni al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka: (jika dibacakan (al-Qur’an)) terhadap kalian wahai orang-orang yang beriman (maka dengarkanlah) yakni dengarkan dengan pendengaran kalian agar memahami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk-Nya, (dan perhatikanlah) untuk memikirkan dan mentadaburinya (agar kalian mendapat rahmat) agar Allah merahmati kalian dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, mempelajari ajaran-ajaran-Nya, dan menjalankan berbagai kewajiban yang dijelaskan-Nya terhadap kalian dalam ayat-ayat-Nya.”[2]


    Imam al-Alusiy menafsirkan frase (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ):



    أي لكي تفوزوا بالرحمة التي هي أقصى ثمراته.

    “Yakni agar kalian meraih kemenangan dengan adanya rahmat Allah yang merupakan anugerah-Nya yang paling luhur.”[3]
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
     
     “Dan Kami turunkan Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa’ [17] : 82)

    Imam Ibn Qayyim menjelaskan:


    والأظهر أن “من” هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين

    Dan sudah jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, artinya seluruh ayat-ayat al-Qur’an merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.”[4]
    Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Sadhan mengatakan:


    وانظر إلى كلمة شفاء، ولم يقل دواء لأنها نتيجة ظاهرة، أما الدواء فيحتمل أن يشفي وقد لا يشفي

    “Dan lihatlah kata syifaa’ (penawar), Allah tidak mengatakan dawaa’ (obat) karena kata syifaa’ ini mendatangkan hasil yang jelas/nyata. Adapun ad-dawaa’ (obat) adakalanya menyembuhkan dan terkadang tidak.”

     Para ulama pun menjelaskan:


    (من) هنا بيانية فالقرآن كله شفاء ودواء لكل داء فمن آمن به وأحلَّ حلاله وحرّم حرامه انتفع به انتفاعا كبيرا، ومن صَدَقَ الله في قصده وإرادته شفاه الله تعالى وعافاه من دائه

    “Kata min dalam ayat ini sebagai penjelasan, maka al-Qur’an seluruh ayat-ayatnya merupakan penawar dan obat bagi segala penyakit. Barangsiapa mengimani al-Qur’an, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya maka ia meraih manfaat yang besar dari al-Qur’an. Dan barangsiapa membenarkan Allah, mencakup tujuan dan kehendak hidupnya, maka Allah akan menyembuhkan dan mengampuninya dari segala penyakit.”

    Allah pun berfirman:


    قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

    ”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman.” (QS. Fushshilat [41]: 44)

    Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di mengungkapkan:


    أي يهديهم لطريق الرشد، والصراط المستقيم، ويعلمهم من العلوم النافعة ما به تحصل الهداية التامة. وشفاء لهم من الأسقام البدنية، والأسقام القلبية، لأنه يزجر عن مساوئ الأخلاق، وأقبح الأعمال، ويحث على التوبة النصوح، التي تغسل الذنوب، وتشفي القلب.” (تيسير الكريم الرحمن – ٤٠٣/٤)

    “Yakni: Allah membimbing mereka ke jalan petunjuk dan jalan yang lurus, Allah pun mengajari mereka ilmu-ilmu bermanfaat yang mengantarkan kepada petunjuk yang sempurna. Serta sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit badan dan penyakit hati yang menimpa mereka, karena al-Qur’an melarang akhlak dan amal perbuatan yang buruk, disamping mendorong manusia untuk bertaubat sungguh-sungguh, yang mencuci dosa-dosa dan menjadi penawar qalbu.”

    Syari’at Islam pasti mengandung kemaslahatan, para ulama pun menegaskannya dengan menyusun kaidah ushûl al-fiqh bahwa:



    حَيْثُمَا يَكُوْنُ الشَّرْعُ تَكُوْنُ اْلمَصْلَحَةُ

    “Jika hukum syara’ diterapkan, maka pasti akan ada kemaslahatan.”[5]

    Dan sikap takwa berpegang teguh pada ajaran Islam, merupakan kebaikan hakiki. Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 183, mendefinisikan takwa:
    التقوى خشية الله وطاعته والاستعداد للقائه سبحانه كما عرفها بعض الصحابة: الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل.

    “Takwa adalah rasa takut kepada Allah, menta’atinya dan mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya, sebagaimana dipahami sebagian sahabat: (takwa) yakni takut kepada Yang Maha Mulia, beramal dengan apa yang diturunkan (al-Qur’an) dan mempersiapkan bekal untuk hari akhir.”
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

    “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allâh, Kami akan memberikan kepadamu Furqân. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allâh mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfâl [8]: 29)

    Standar Pasti Kebaikan tampa Keburukan
    Imam Taqiyuddin al-Nabhani menegaskan:


    أن الخير في نظر المسلم ما أرضى الله والشر هو ما أسخطه

    Bahwa predikat baik (al-khayr) dalam penilaian seorang muslim adalah sesuatu yang diridhai Allâh, sedangkan buruk (al-syarr) adalah sesuatu yang dimurkai-Nya.”[6]

    Dan bisa jadi apa yang kita pandang baik hakikatnya buruk di sisi Allah, dan sebaliknya, apa yang kita pandang buruk hakikatnya baik di sisi-Nya. Allah SWT berfirman:
    وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

    Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah menuturkan:


    الإنسان عاجز و ناقص و محتاج إلى من أوجده ، و إدراك الإنسان هذه الحقيقة يكفي  لجعله يسلّم أموره كلها للخالق المدبر ، فلا يقوم بأي فعل إلا بعد معرفة حكم الله فيه ، فيقوم به مطمئناً و متيقناً بأنه الحكم المناسب، و هو الأصلح لحياته ، حتى لو زيّن له الشيطان غير ذلك

    “Manusia adalah makhluk lemah, memiliki kekurangan, dan membutuhkan kepada yang menciptakannya, dan kesadaran manusia terhadap hakikat ini sudah cukup menjadi alasan baginya untuk menyerahkan segala urusannya kepada Sang Pencipta Yang Maha Mengatur, maka sudah semestinya manusia tidak melakukan suatu perbuatan kecuali setelah mengetahui hukum Allah atas perbuatan tersebut, ia melaksanakannya dengan tentram dan yakin bahwa hukum ini hukum yang benar, dan sesuai untuk kehidupannya, meski syaithan menimbulkan tipu daya kebalikan dari itu semua.”[7]

    Lalu, Syaikh ‘Abdul Hamid menukil dalil:


    إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
     
     “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 40)

    Syaikh ‘Abdul Hamid menjelaskan lebih jauh:


    إننا ندرك إدراكاً قطعياً أن المصلحة الحقيقية هي في اتباع شرع الله و لو تعارض مع مصالحنا و أهوائنا و رغباتنا ، و هو ما يستلزمه الإيمان

    “Sesungguhnya kita menyadari dengan kesadaran yang pasti bahwa kemaslahatan hakiki ada dalam sikap mengikuti syari’at Allah meski tidak sejalan dengan kemauan, hawa nafsu dan kecendrungan kita, dan inilah tuntutan keimanan.”

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:


    فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
     
     “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. Al-Nisaa’ [4]: 65)

     Syaikh Prof. Dr. Muhammad Amhazun menuturkan:


    إن تحكيم الشريعة الإسلامية استجابة لله تعالى ولرسوله أمر واجب كل الوجوب، إذ فيه الحياة والخير والصلاح

    “Sesungguhnya berhukum dengan syari’at Islam merupakan pemenuhan terhadap tuntutan Allah dan Rasul-Nya di antara kewajiban paling penting dari kewajiban-kewajiban yang ada, ketika didalam kewajiban ini terkandung kehidupan, kebaikan dan kebenaran.”[8]

    Berdasarkan dalil:


    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
     
     “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”  (QS. Al-Anfaal [8]: 24)

    Sebaliknya, bagi kaum yang berpaling dari syari’at Allah dan menggantinya dengan hukum thaghut. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Amhazun menegaskan:
    ولا شك أن تنحية شرع الله وعدم التحاكم إليه في شؤون الحياة ، من أخطر وأبرز مظاهر الانحراف في مجتمعات المسلمين، وكانت عواقب الحكم بغير ما أنزل الله في بلادهم ما حل بهم من أنواع الفساد والشرور والبغي والظلم والذل ومحق البركة.

    “Dan tidak ada keraguan bahwa berpaling dari syari’at Allah dan tidak berhukum dengannya dalam kehidupan, merupakan hal yang paling berbahaya dan paling jelas penyimpangannya bagi masyarakat kaum muslimin, dan berhukum dengan selain hukum Allah di negeri-negeri kaum muslimin mengakibatkan berbagai kerusakan, keburukan, penindasan, kezhaliman, kehinaan dan menghilangkan keberkahan hidup.”
    وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ 

    ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta.” (QS. Thaahaa [20]: 124)

    Allah pun mengancam siapa saja yang mengambil ajaran di luar Islam sebagai pedoman hidupnya:


    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    ”Barangsiapa mencari Din selain Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (Din itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85)

    Ingat ‘Umar bin al-Khaththab -rahimahullaah- pun menegaskan:
    نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ ، وَمَتىَ ابْتَغَيْنَا اْلعِزَّ بِغَيْرِ دِيْنِ اللهِ أَذَلَّنَا اللهُ

    “Kami adalah kaum yang telah dimuliakan oleh Allâh dengan Islam, sehingga kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain agama Allâh, maka Allâh menghinakan kami.”[9]

    Ironisnya jika seorang muslim lebih bangga dengan ajaran di luar Islam (semisal Demokrasi), ini adalah bencana bagi kehidupannya. dengan Tentu kita berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari sifat yang dituturkan al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi dalam sya’irnya:

    أأخي إن من الرجال بهيمة                        في صورة الرجل السميع المبصر
    فطن لكل مصيبة في مالــه                          وإذا يصاب بدينه لم يشعــر

     “Wahai saudaraku, diantara manusia ada yang bersifat bagaikan binatang”
    “Dalam bentuk seseorang yang mampu mendengar dan berwawasan”
    “Terasa berat baginya jika musibah menimpa harta bendanya”
    “Namun jika musibah menimpa agamanya, tiada terasa”[10]

    [1] Tafsîr Munîr (Tafsir Marah Labid (II/47)).
    [2] Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan, Imam Abu Ja’far al-Thabariy – al-Maktabah al-Syamilah.
    [3] Lihat: Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy, Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy – al-Maktabah al-Syamilah.
    [4] Lihat: Ighaatsatul Lahfan (1/24)
    [5] Lihat: Al-Fikr (hlm. 41-43), Syaikh Muhammad Isma’il.
    [6] Lihat: Mafâhîm Hizb al-Tahrîr, Imam Taqiyuddin al-Nabhani.
    [7] Lihat: Al-Ahzaab fii Al-Islaam, Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah – Risaalah Maajistiir
    [8] Lihat: Thaaghuut Al-‘Ashr, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Amhazun dalam Majalah Al-Bayaan, No. 303.
    [9] HR. al-Thabari dalam tafsirnya 13/478.
    [10]Lihat: Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis (I/169).
     

    Tentang KMM

    Foto saya
    "LDK KMM STKS adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di STKS Bandung yang secara khusus bergerak dalam kegiatan Dakwah Kampus"

    Like Our Facebook

    Lembaga Dakwah Kampus Keluarga Mahasiswa Muslim Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung Copyright © 2009 - 2018