T-KMM STKS Bandung:
#KESENANGAN DUNIA YANG MENIPU
Allah SWT berfirman:
“Dijadikan terasa indah dalam
pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas
dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [TQS. Ali Imran (3)
: 14]
Dalam Suatu Riwayat (Dalam Kitab Terjemah Lengkap
Riyadhus Shalihin ‘Perjalanan Menuju Taman Surga’, Imam Nawawi, Halaman 184)
Dari Amr bin ‘Auf Al-Anshariy
ra., ia berkata: Rasulullah SAW mengutus Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah ra. ke Bahrain,
guna mengambil upeti (pajak). Sekembalinya dari Bahrain, ia membawa harta yang
cukup banyak. Para shahabat Anshor mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah. Mereka sholat
Subuh bersama-sama Rasulullah SAW, ketika selesai sholat Rasulullah SAW
menoleh, dan para shahabat menatap beliau, kemudian Rasulullah SAW tersenyum
ketika melihat mereka, seraya bersabda: “Aku kira kalian sudah mendengar, bahwa
Abu ‘Ubaidah telah datang dari Bahrain dengan membawa harta yang banyak.” Mereka
berkata: “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sambutlah berita gembira
itu, dan berharaplah semoga Allah memudahkan apa yang kamu inginkan. Demi Allah,
tidaklah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, namun aku khawatir
kalau-kalau kekayaan dunia ini dihamparkan, sebagaimana yang pernah dihamparkan
atas orang-orang sebelum kalian, lalu akan berlomba-lomba pada kekayaan,
sebagaimana mereka, kemudian kekayaan itu akan membinasakan kalian, sebagaimana
mereka.” [HR.
Bukhari dan Muslim]
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ustadz Felix Siauw
terus menerus manusia tanpa berpuas mengejar sesuatu
yang dia inginkan | hingga terlambat ia sadari bahwa semua itu bukan yang ia
perlukan
kita menertawakan sesuatu yang kelak akan kita tangisi | mengumpulkan semua yang justru akan membebani
kita khawatir pada hal yang belum pasti semisal penghasilan tinggi | malah merasa aman dengan kematian yang sudah pasti
kita perbanyak diri bergantung pada manusia yang akan berakhir | tapi selalu abai pada Dia yang menguasai hari akhir
tak pernah merasa cukup adalah kelemahan dan kekuatan manusia | bila itu untuk ibadah beruntunglah kita bila untuk dunia matilah kita
kita menertawakan sesuatu yang kelak akan kita tangisi | mengumpulkan semua yang justru akan membebani
kita khawatir pada hal yang belum pasti semisal penghasilan tinggi | malah merasa aman dengan kematian yang sudah pasti
kita perbanyak diri bergantung pada manusia yang akan berakhir | tapi selalu abai pada Dia yang menguasai hari akhir
tak pernah merasa cukup adalah kelemahan dan kekuatan manusia | bila itu untuk ibadah beruntunglah kita bila untuk dunia matilah kita


0 komentar:
Posting Komentar